>

GORONTALO - Farel (11) siswa SD Muhammadiyah, Kota Utara, Kota Gorontalo baru 2 hari mengiris serat lain untuk membuat sulaman karawo. Berbekal midangan, kain, jarum dan silet ia pilih serat kain yang hendak dipotong.

Sesekali seorang wanita paruh baya mengarahkan cara yang mudah untuk mengiris serat agar tidak rusak. Farel tidak sendiri, ada Nurfadila (12), dan Nisa (9) dan seorang gadis kecil yang juga sama-sama pakai seragam sekolah, mereka bergantian melakukan pengirisan, penyulaman dan mengikat serat kain.

Siswa sekolah dasar ini sedang menyelesaikan pola motif geometris di ajang Mokarawo Traditional Handmade atau lomba mengiris, menyulam dan mengikat yang diikuti banyak kelompok wanita pengrajin sulam karawo.

Para siswa ini tidak ikut lomba, keterampilan ini adalah eksibisi untuk memeriahkan Mokarawo Traditional Handmade di Bele li Mbui, salah satu rangkaian Gorontalo Karnaval Karawo (GKK).

"Kami hanya memperlihatkan bahwa pembinaan sulaman karawo pada anak-anak ini benar-benar kami lakukan," kaya Delvi Akase, staf Dinas Perindustrian Kota Gorontalo, Jumat (4/10/2019).

Delvi Akase menjelaskan sejak 2 tahun Pemerintah Kota Gorontalo melalui Dinas Perindustrian memprogramkan pembinaan sulaman karawo pada siswa sekolah dasar. Diakuinya oembinaan ini tidak intensif dengan mengenalkan kemampuan dasar membuat sulaman seperti mengiris serat lain, menyulam dan mengikat. Pekerjaannya pun masih sekitas pembuatan pola yang sederhana.

"Kami senang membuat karawo, tidak susah tapi juga tidak boleh cepat-cepat," kata Farel.

Mokarawo Traditional Handmade merupakan bagian dari pesta besar Gorontalo Karnaval Karawo, salah satu dari  100 Calendar of Event Kementerian Pariwisata.

Dalam lomba ini diikuti puluhan peserta dari kelompok-kelompok usaha sulam karawo di Gorontalo.

"Kami terus mendorong tumbuh kembangnya kerajinan tradisional Gorontalo ini melalui bidang Ekonomi Kreatif," kata Rifli Katili, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.

Upaya pemuliaan kerajinan ini dilalukan dengan pembinaan dan pelatihan, yang pada akhir kegiatan adalah pesta kaum pengrajin karawo, Gorontalo Karnaval Karawo.

Tekad Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Pariwisata dalam memajukan kerajinan ini dilalukan dengan kolaborasi dengan berbagai instansi seperti Bank Indonesia dan Dinas Perindustrian.

"Gorontalo Karnaval Karawo adalah sarana mengenalkan sulaman ini kepada dunia," kata Ivone Reane Larekeng, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata.

Ivone Larekeng yakin, upaya mengenalkan sulaman tradisional ini terus dilalukan melalui banyak cara, menggelar festival, promosi online dan offline dan jalur lainnya.

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

GORONTALO - Para pengrajin dan mereka yang terkait  perdagangan Sulaman Karawo saat ini sedang disibukkan dengan produksi.

Mereka harus memenuhi permintaan pasar yang terus  meningkat, termasuk pesanan dari luar Gorontalo yang terus mengantre.

"Permintaan sulaman karawo makin banyak, ada kenaikan 50 persen sejak digelar festival Gorontalo Karnanal Karawo," kata Nining Abdurahman Arif (35), Ketua Koperasi Wanita Metalik Jaya, Sabtu (5/10/2019).

Untuk memenuhi permintaan ini, ia harus menggerakkan 30 orang anggotanya, para anggota koperani ini juga dibantu keluarganya. Sehingga pekerjaan penyulaman karawo ini sesungguhnya melibatkan banyak orang.

"Memang kewalahan, tapi ini juga menyenangkan semua orang," sambung Nining Abdurrahman Arif.

Diakuinya, pasar luar daerah semakin terbuka sejak Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo dan Bank Indonesia menggelar Festival Gorontalo Karnaval Karawo. Kaum ibu di luar daerah tertarik dengan sulaman ini melalui media sosial, mereka kemudian memburunya melalui media internet.

"Mereka tertarik karena prosesnya yang rumit, mulai dari pencabutan serat kain, menyulam dan mengikatnya," kata Nining.

Jilbab adalah pesanan yang paling laris. Bunga-bunga sulaman karawo yang menghias di kain menjadi pemanis siapapun yang memakainya. Pasar jilbab karawo memang sedang bergeliat.

Jauh dari Ibu Kota Provinsi Gorontalo, Briskawati yanh warga Desa Diloato Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo menghentikan pesanan tas karawo hingga 3 bulan ke depan.

Ia dan pekerjanya tak sanggup lagi memenuhi permintaan pasar, termasuk 400 buah tas karawo pesanan dari Prancis.

"Hingga 3 bulan ke depan kami menghentikan pemesanan, kami masih fokus pada penyelesaian pesanan yang sudah ada," kata Briskawati.

Seperti sebuah lokomotif kereta api, Festival Gorontalo Karnaval Karawo ini telah membawa gerbong ekonomi para pengrajin melesat. Mereka harus memgikuti irama yang tinggi sambil meningkatkan kualitasnya.

Di Gorontalo tidak hanya Nining Abdurrahman Arif dan Briskawati, ada ribuan pengrajin yang setiap hari menekuni sulaman ini, mulai dari desainer, pengiris serat kain, dan penyulamnya. Belum terhitung mereka yang terlibat dalam jaringan perdagangannya.

Yang juga kecipratan kue ini adalah jasa ekspedisi, kuliner, juga penyedia kebutuhan bahan baku.

Roda ekonomi yang terus membaik dengan tingkat pertumbuhan di atas rata-rata nasional. Salah satu sumbangan geliat ekonomi ini berasal dari sektor pariwisata. Pariwisata Gorontalo memang sedang tumbuh, desa-desa yang memiliki potensi menganggarkan dananya untuk mempercantik diri, mengenalkan river tubing, jungle tracking, hiu paus, tarsius, pantai, mangrove, kuliner, kesenian, adat budaya hingga peninggalan masa lalu.

Potensi alam dan budaya yang dimiliki desa-desa ini bukan cerita di atas kertas, setidaknya ada 6 desa di kawasan penyangga taman nasional Bogani Nani Wartabonedi Kabupaten Bone Bolango yang mengembangkan ekowisata, juga di Kabupaten Pohuwato, Boalemo, Gorongalo Utara, dan Kabupaten Gorontalo.

Kekuatan lain yang turut mendukung pengembangan pariiwisata adalah para stakeholder seperti penerbangan, travel, hotel, jasa kepemanduan, dan pelaku usaha ekonomi kreatif. Peran dan kerjasama antarlembaga ini menghasilkan sinergi yang dibutuhkan semua pihak.

“Pariwisata memang menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Masyarakat dan pemerintah desa  juga sangat antusias mengembangkan potensinya,” kata Rifli Katili, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.

Keseriusan pemerintah menggarap sektor pariwisata ini juga telah mengubah Gorontalo dari daerah transit wisatawan nusantara dan mancanegata menjadi daerah tujuan pariwisata. Namun jumlah kunjungan wisatawan ini harus ditingkatkan agar dapat memberi manfaat lebih beaar lagi kepada masyarakat.

“Gorontalo memiliki hiu paus, burung maleo, tarsius, babi rusa, keramahan warganya, juga adat istiadat yang memperkaya pengalaman hidup para wisatawan mancaneggara dan nusantara,” papar Rifli Katili.

Dinamika ekonomi pariwisata ini menghasilkan multiplier effect, semua yang saling terhubung langsung maupun tidak merasakan peningkatan ekonomi. Inilah pariwisata sebagai lokomotif penarik gerbong ekonomi Gorontalo.

Dinas Pariwisata menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi, di sisi mikronya geliatnya telah meningkatkan pendapatan, mengurangi pengangguran di desa-desa, dan menjalankan pemerataan kesejahteraan sebab pariwisata tidak mengenal desa atau kota, semua layak dikunjungi.

Namun sejumlah “pekerjaan rumah” masih menunggu agar pesta akbar pariwisata ini lebih menggema dan memiliki multiplier effect lebih besar. Pekerjaaan yang harus diselesaikan adalah memperpanjang waktu perhelatan dan menautkan dengan festival lain di kabupaten dan kota di daerah ini, seperti Festival Pesona Danau Limboto, Festival Pesona Otanaha, Festival Pesona Saronde, Festival Pohon Cinta, dan lainnya

Mengintegrasikan banyak festival ini tidak mudah, namun juga bukan tidak bisa. Koordinasi dan kerja sama terus menjadi jembatan komunikasi agar bisa terwujud, semuanya demi peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kami memiliki brand Gorontalo the Heart of Celebes yang menegaskan potensi besar pada kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya, inilah pariwisata yang berkelas internasional,” kata Ivone Reane Larekeng, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata.

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

GORONTALO - Ada yang manarik dari sajian Karawo Fashion Contest, hadirnya sulaman karawo yang dikombinasi dengan teknik air brush dan batik melalui goresan canting.

Inilah karya Mursidahwaty, peneliti dari Jurusan Seni Rupa dan Disain Universitas Negeri Gorontalo.

Karya busana yang tidak lazim ini merupakan ini merupakan hasil riset 

Teknik airbrush lazimnya digunakan untuk mewarnai kendaraan bermotor, kali ini kehadirannya menjadi pemanis busana bersanding dengan sulaman karawo dan batik.

"Ini hasil penelitian yang diinspirasi dari kehidupan sehari-hari," kata Mursidahwaty, Kamis (3/10/2019).

Perjumpaan teknik airbrush, lenggak-lenggok canting membatik, dan jelujur benang dalam serat kain karawo membentuk kombinasi karawo yang unik, dan bercita-rasa pribadi.

"Semua berasal dari kain putih, ketiga teknik digunakan dalam kain ini, maka sentuhannya sangat pribadi," papar Mursidahwaty.

Karawo Fashion Contest menjadi barometer kemajuan sulaman karawo. 

Kreatifitas selalu menemukan jalannya menjadi penegas kombinasi ketiga teknik ini, tak terduga, memikat dan fashionable.

Ajang adibusana tahunan ini merupakan salah satu rangkaian Gorontalo Karnaval Karawo, salah satu Calendar of Event Kementerian Pariwisata yang digelar di Gorontalo.

Agenda pariwisata ini telah menjadi motor kreatifitas untuk mengembangkan ekonomi.

Para pengrajin sulaman banjir pesanan, semua berpesta merayakan peningkatan apresiasi sulaman karawo ini.

"Melalui Karawo Fashion Contest, sulaman tradisional Gorontalo dikenal luas ke Indonesia, bahkan dunia," kata Rifli Katili, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

GORONTALO - Puluhan pengrajin wanita dari berbagai daerah mengikuti paparan ahli sulaman karawo pada kegiatan Mokarawo Design Training di Kota Gorontalo, Rabu (2/10/2019).

Ini adalah rangkaian awal Gorontalo Karnaval Karawo (GKK), salah satu dari 100 Calendar of Event Kementerian Pariwisata.

Para pelaku ekonomi kreatif ini bertemu dan berdialog dengan pembicara I Wayan Sudana,  Hasdiana Saleh dan Agus Lahinta. Ketiganya adalah pengajar di Universitas Negeri Gorontalo.

"Karawo telah menghidupi ribuan orang, melalui GKK kami berusaha meningkatkan kesejahteraan para pengrajin," kata Rifli Katili.

Mokarawaro Design Traning ini adalah upaya meningkatkan kemampuan para pengrajin dalam menghasilkan karya sulaman yang berkualitas dan mengikuti perkembangan zaman.

Nining, pemilik usaha sulaman karawo yang ikut pelatihan ini mengaku mendapat banyak informasi dan pengetahuan dari kegiatan ini.

"Banyak hal yg kami dapat dari kegiatan ini," kata Nining.

Kegiatan ini dibuka oleh Sutan Rusdi,  Asisten 2 Sekretariat Daerah Provinsi Gorontalo.

 

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo
Minggu, 29 September 2019 09:25

Wagub Canangkan Gorontalo Karnaval Karawo

GORONTALO – Pengembangan kerajinan sulaman karawo harus dilestarikan dan didukung oleh lintas sektor di  Provinsi Gorontalo.

Kolaborasi ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas sulaman karawo melalui peningkatan kapasitas pengrajin yang pada gilirannya akan meningkatkan nilai jualnya.

"Sulaman karawo adalah budaya masyarakat Gorontalo,  yang diturunkan dari nenek moyang," kata Idris Rahim, Wakil Gubernur Gorontalo pada pencanangan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2019 di lapangan Taruna Remaja, Kota Gorontalo, Minggu (29/9/2019).

Sebagai warisan budaya, karawo menjadi identitas masyarakat Gorontalo. Kerajinan ini hidup di tengah masyarakat, dilakukan oleh kaum wanita seusai melakuka  aktifitas rumah tangga.

Sebagai kerajinan, sulaman karawo harus ditingkatkan kualitasnya. Tanggung jawab ini dilakukan oleh pemerintah melalui instansi terkait seperti dinas perindustrian, pariwisata, Dewan Kerajinan Nasional dan dukungan dari Bank Indonesia.

"Karawo yang berkualitas terbukti menjadi daya tarik masyarakat internasional, karawo sudah dikenal luas," ujar Rifli Katili, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.

Sebagai institusi yang bertanggung jawab untuk mengenalkan sulaman karawo, Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo sejak lama getol mempromosikan produk unik ini, salah satunya melalui Gorontalo Karnaval Karawo (GKK), sebuah ajang kepariwisataan yang masuk dalam 100 Calendar of Even Kementerian Pariwisata. GKK tahun ini memasuki usia ke-9.

Pengrajin karawo ditemukan di semua daerah di Provinsi Gorontalo, jumlahnya mencapai ribuan orang. Mereka menyulam setiap hari, melibatkan anggota keluarga.

Keterampilan mengiris serat benang, menyulam dan mengikatnya menjadi sulaman yang indah. Kerajinan ini diwariskan dari anggota keluarga yang lebih tua kepada anak-anak. Sampai saat ini para pengrajin masih tekun memainkan benang warna-warni pada kain yang telah dicabut sebagian seratnya.

Untuk menggenjot penjualan sulaman karawo, Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Pariwisata menggelar GKK setiap tahunnya.

Ketekunan dan konsisten penyelenggaraan kegiatan ini menjadikan GKK masuk dalam 100 Calendar of Event Kementerian Pariwisata.

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

 

GORONTALO - Berada di Gorontalo pada pekan awal Oktober ini menjadi pilihan yang tepat bagi masyarakat yang ingin menikmati pengalaman baru di daerah ini.

Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Kementerian Pariwisata pada 2-6 Oktober 2019 akan menggelar salah satu dari 100 Calendar of Event (CoE) yang megah, Gorontalo Karnaval Karawo (GKK), sebuah ajang promosi pariwisata yang melibatkan masyarakat luas.

Penyelenggaraan GKK tahun ini yang ke-9 dengan rangkaian atraksi yang panjang, mulai dari suguhan kaum wanita mengiris serat kain sebagai media sulaman, sebuah pekerjaan yang sangat rumit, memerlukan ketelitian tinggi, apalagi yang diiiris adalah serat kain sutra. 

Kerajinan kaum wanita Gorontalo ini dilalukan secara manual, sulaman ini menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia yang bernilai tinggi.

"Bagi wisatawan yang ingin mengenal dan belajar sulaman karawo silakan datang di Gorontalo Karnaval Karawo," kata Rifli Katili, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Minggu (29/9/3019).

Bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman menjadi disainer karawo, momen indah bisa dinikmati pada training disainer karawo. Padu padan warna, bentuk, dan kombinasi dengan kain menjadi tantangan tersendiri. Inilah pengalaman hidup yang indah di Gorontalo.

Penikmat kuliner yang suka cicip-cicip makanan tradisional dan kreasi, ekspo kuliner menjadi pilihan menarik selama 4-6 Oktober. Makanan tradisional dan olahan kreasi berbahan lokal menjadi menu unggulan, yang menyukai tantangan rasa pedas, inilah tempatnya.

"Jangan lupa bawa kamera!" kata Ivone Reane Larekeng, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Provinsi Gorontalo.

Ivone mengingatkan ada banyak momen dan obyek indah di Gorontalo. 

Bentang alam perbukitan kapur yang memagari lembah Gorontalo yang luas dan laut di utara, Laut Sulawesi dan di selatan, Teluk Tomini.

"Karnaval Karawo adalah suguhan utama pada 6 Oktober, juga ada karawo fashion contest," ujar Ivone Larekeng.

Para pengambil kebijakan kepariwisataan akan bertemu pada Celebes Tourism Meeting (CTM) dengan pembicara Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dengan moderator Nurdin Razak, seorang praktisi dan akademisi ecotourism.

Pengalaman menikmati hidup di Gorontalo ini menjadi pilihan yang indah bagi wisatawan.

"Gorontalo adalah negeri yang elok, berada di kawasan Wallacea yang kaya endemisitas, budayanya unik, dan menyajikan pesona bentang alam yang khas," ujar Ratna Sari Dewi Wayan, wanita asal Singaraja, Bali yang tinggal di Limboto.

Mengenal Gorontalo dan menikmati pengalaman hidup di negeri ini menjadi tawaran istimewa pekan awal Oktober ini, yang berbarengan dengan Gorontalo Karnaval Karawo yang digelar 2-6 Oktober 2019.

Sebagai pendatang baru di dunia pariwisata, Gorontalo menjadi pilihan utama para wisatawan.

Dengan membawa tagline The Heart of Celebes, Gorontalo pesona alam dan budaya yang memikat. Di negeri ini hiu paus bisa disaksikan dengan mudah, juga babi rusa, julang sulawesi, anoa, tarsius, dan keanekaragaman hayati lainnya yang berada di kawasan konservasi 

Keramahan warganya yang setia menjaga tradisi budaya, memberi suguhan yang indah dalam pengalaman hidup.

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

GORONTALO – “Bangga sebagai orang Gorontalo? Ayo ramaikan hari kita dengan mengaktifkan Nada sambung Pribadi (NSP) Song of Karawo pada telepon seluler,” kata Ivone Reane Larekeng, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Provinsi Gorontalo, Sabtu (28/9/2019).

Song of Karawo ini dinyanyikan oleh Ecko Show dan Norman Kamaru, pertama kali diluncurkan pada Senin (26/8/2019) di kota Gorontalo.

Lagu ini diciptakan dengan irama yang disukai kaum milenial, penuh dinamis dari awal hingga akhir, irama yang menggambarkan energi kaum muda yang penuh kreasi, dinamis dan optimistis memandang masa depan.

“Untuk memasang sog of karawo di telepon seluler cukup menuliskan Eckap dan kirim ke 1212, akan dikenakan biaya Rp9900 untuk 30 hari,” ujar Ivone Larekeng yang menggandeng perusahaan Telkomsel untuk menyemarakkan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK).

Beragam upaya dilakukan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo untuk menggaungkan GKK ini, terobosan kreatif dengan melibatkan banyak pihak berbuah sukses. Mereka menyambut dan ingin terlibat dalam perhelatan GKK.

Dukungan korporasi, komunitas di luar pemerintah menjadikan GKK sebagai ajang promosi yang dianggap milik semua orang.

“GKK adalah pestanya semua orang, yang terlibat banyak dan semuanya merasa ini bagian dari mereka,” kata Rifli Katili, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo.

Song of Karawo sebagai NSP telah diunduh banyak orang, mereka bangga dengan kegiatan ini yang telah menjadi salah satu dari 100 Calendar od Event Kementerian Pariwisata.

Lagu tema GKK ini semakin popler di telingan siapa saja, mengingatkan kembali kepada dinamika kaum muda yang menyukai banyak kegiatan, bangga dengan hasil karya budaya Gorontalo, sulaman karawo yang adiluhur.

“Kaum muda adalah kunci pelestarian sulaman karawo, sehingga NSP song of karawo ini lebih condong ke aliran kaum muda,” kata Rifli Katili.

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

GORONTALO - Subsektor ekonomi kreatif yang tidak dijamah pemerintah daerah akan didukung olen Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Karena tidak semua pemerintah daerah mampu mengembangkan semua subsektor, aplikasi dan game, arsitektur, desain interior, desain komuniiasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, perbitan, perikanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio.

"Bekraf ini akan menembus dan melebur ke pemerintah daerah, termasuk ke urusan desain komunikasi visual," kata Amir Hamzah, Kepala Subbagian Tata Usaha Direktorat Edukasi ekonomi krearif Bekraf pada Millennial Creative Talk yang digelar di Kota Gorontalo, Jumat (27/9/2019).

Kegiatan yang diikuti lebih dari 150 kaum milenial ini bertujuan untuk memotivasi dan menginspirasi para milenial untuk yakin industri kreatif menjadi pilihan profesi.

"Harus muncul tokoh kreatif yang mampu bersinergi dengan pemerintah daerah," ujar Amir Hamzah.

Amir Hamzah yakin pada 10-20 tahun lagi kaum milenial akan menjadi penentu dalam dunia kreatif.

Dalam bincang kreatif ini menghadirkan 2 pembicara, Fiki Satari, salah seorang tokoh ekonomi kreatif dari Bandung, Jawa Barat dan Marysa Tunjung Sari, seorang food fotografer ternama.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Rifli Katili berharap bincang kreatif milenial ini akan menginspirasi kaum muda di Gorontalo.

"Insyaallah dunia ekonomi kreatif Gorontalo akan semakin membaik," kata Rifli Katili.

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

GORONTALO –  Industri kreatif tidak lepas dari peran kaum muda yang memiliki potensi kreasi yang tak terbatas, jumlah mereka sangat banyak dan saling terhubungan dengan dunia internet.

Potensi ini harus dikembangkan untuk menjadi industri kreatif yang dapat menggerakkan ekonomi wilayah dan memberi dampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha, menjadi multiplier effect dalam kawasan dan secara umum memberi sumbangan kepda pertumbuhan ekonomi.

“Potensi yang sudah disentuh masih terbatas pada subsektor kuliner, fashion, dan kriya dari 16 subsektor yang ada,” kata Rifli Katili, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo saat membuka Millennial Creative Talk yang dilaksanakan oleh Badan Kreatif, Jumat (27/9/2019).

Potensi besar ini juga didukung oleh konektifitas internet yang menjadi sarana keterhubungan antarpelaku usaha kreatif dan pasar yang sangat luas. Industri kreatif ini akan terus maju sering penggunaan internet yang berkembang.

“Tugas dan tanggung jawab kami adalah memajukan dunia ekonomi kreatif, menciptakan ruang publik yang luas, keberpihakan lembaga  finansial untuk mendanai dan memberi ruang gerak usaha kreatif,” ujar Rifli Katili.

Peluang dalam industri kreatif ini sangat luas dan terbuka peluang bagi kaum muda tanpa mengenal batas-batas wilayah dan waktu, peluang ini harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh kaum muda.

Rifli Katili berharap kaum muda Gorontalo yang memiliki kreatifitas dan inovasi di dunia digital harus memanfaatkan peluang ini.

Berkembangnya dunia digital ini juga dipercaya mampu mengembangakn lapangan kerja, membantu penurunan angka pengangguran.

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo

 

GORONTALO – Persiapan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2019 terus dimatangkan Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo dengan mengecek persiapan unit-unit kegiatan yang menjadi rangkaian acara.

Sejumlah penanggung jawab kegiatan melaporkan secara detail kemajuan persiapan, termasuk kendala yang dihadapi dan koordinasi dengan instansi lain dalam rapat yang dipimpin Kepala Dinas, Rifli Katili, Kamis (25/9/2019).

“Kami mengecek sejauh mana persiapan, termasuk hambatan yang ditemui. Kami ingin memastikan saat hari H nanti berlangsung lancar,” kata Rifli Katili.

Rapat yang dihadiri sejumlah penanggung jawab kegiatan dan staf ini berlangsung siang hingga malam. Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana melibatkan peran komunitas untuk menjadi Gorontalo Karnaval Karawo sebagai kegiatan bersama.

Pesta pariwisata Gorontalo Karnaval Karawo ini merupakan salah satu dari 100 Calendar of Event (CoE) Kementerian Pariwisata yang menjadi daya tarik wisatawan. Dengan gelaran ini diharapkan dapat menyedot kunjungan wisatawan lokal, nusantara dan mancenegara.

Banyaknya kunjungan wisatawan ini akan menggerakkan roda perekonomian dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Gorontalo Karnaval Karawo ini akan dicanangkan pada Minggu (29/9/2019) di lapangan Taruna Remaja, Kota Gorontalo pada pukul 06.00 Wita. Beragam acara akan digelar termasuk quiz yang bertabur hadiah.

“Silakan masyarakat untuk meramaikan pencanangan GKK di Lapangan Taruna Remaja,” ujar Rifli Katili.

Dalam rangkaian Gorontalo Karnaval Karawo ini akan digelar sejumlah kegiatan, antara lain Mokarawo Design Training pada 2 Oktober 2019 pukul 08.00 Wita yang bertempat di Grand Palace Convention Center, Kota Gorontalo.

Pada 3 Oktober 2019 pukul 19.00 Wita di Grand Palace Convention Center, digelar Karawo Fashion Contest yang diikuti para disainer muda dan menampilkan produk busana karawo terbaru.

Pada 4 Oktober 2019 pukul 10.00 Wita di Grand Palace Convention Center, digelar Mokarawo Traditional Homemade.

Tanggalo 4-6 Oktober 2019 para pecinta kuliner akan dimanjakan dengan Gorontalo Culinary Expo yang diikuti oleh puluhan pelaku usaha kuliner yang akan menyuguhkan cita rasa khas Gorontalo. Ekspo kuliner ini akan menyedot banyak pengunjung sejak pagi hingga malam. Dalam kegiatan ini akan ada demo masak, termasuk kehadiran Ta Nou yang akan menggoreng pisang hanya dengan tangan di dalam minyak panah yang mendidih.

Celebes Tourism Meeting yang akan dibuka Menteri Pariwisata Arief Yahya digelar pada 5 Oktober 2019 pukul 12.30 Wita di Hotel Grand Q, Kota Gorontalo. Kisah sukses mengelola pariwisata juga akan dipaparkan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. CTM ini akan dipandu oleh moderator, seorang praktisi wisata berkelanjutan (Ecotourism), Nurdin Razak.

Pada 6 Oktober 2019 juga merupakan puncak kegiatan dengan Karnaval Karawo yang akan meramaikan jalan utama Provinsi Gorontalo, mulai berangkat dari kawasan Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo yang berakhir di eks kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo.

Dipublikasikan pada Provinsi Gorontalo
Halaman 1 dari 5
© 2019, Pemerintah Provinsi Gorontalo
Jalan Sapta Marga Kelurahan Botu
Kota Gorontalo - Gorontalo