Sejarah

Pembentukan daerah otonom di Indonesia seringkali dikaitkan dengan dua hal, yakni bagian dari daerah kerajaan masa lampau dan pembagian daerah menurut aturan kolonial Belanda. Berdasarkan data historis, Boalemo pada abad ke-17 pernah menjadi sebuah daerah kerajaan, wilayahnya mencakup bagian barat Gorontalo. Ketika Belanda berkuasa sistem pemerintahan beberapa kali mengalami perubahan. Dalam Lembaran Negara tahun 1925 Nomor 262, Keresidenan Gorontalo dibagi menjadi dua wilayah pemerintahan, yakni; 1) Onder Afdeling Gorontalo dengan Onder distriknya, meliputi Atinggola, Kwandang, Sumalata, Batudaa, Tibawa, Gorontalo, Telaga, Tapa, Kabila, Suwawa dan Bonepantai, 2) Onder Afdeling Boalemo dengan Onder distriknya, meliputi Paguyaman, Tilamuta dan Paguat.

Pada tahun 1946, ketika Sulawesi menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur, keswaprajaan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 perihal pemebentukan Daerah Tingkat II di seluruh Sulawesi. Dalam UU ini Boalemo menjadi salah satu kawedanan dalam wilayah Kabupaten Gorontalo. Status kewedanan Boalemo berlaku sampai dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974 yang selanjutnya disusul oleh Permendagri Nomor 132 tahun 1978 tentang Pedoman Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pembantu Bupati/Walikotamadya. Kemudian bekas Kewedanan Boalemo berubah menjadi Pembantu Bupati Wilayah Kerja Paguat yang meliputi lima kecamatan, yakni ; Paguyaman, Tilamuta, Marisa, Popayato. Menengok sejarah Boalemo pada masa lalu, serta mempertimbangkan jarak kendali pemerintahan Kabupaten Gorontalo yang berpusat di Limboto, maka kemudian berkembang aspirasi pembentukan daerah otonom baru. Apalagi saat itu dukungan telah disuarakan oleh Bupati Gorontalo dan DPRD setempat, juga adanya dukungan dari Gubernur dan DPRD Sulawesi Utara sebelum berpisah Gorontalo menjadi provinsi. Kemudian Presiden RI dan DPR RI menetapkan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 1999, tanggal 4 Oktober 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Boalemo (Lembaran Negara RI tahun 1999 Nomor 178, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3899).

Kemudian secara resmi Kabupaten Boalemo berdiri setelah diundangkannya pada tanggal 12 Oktober 1999. Pada saat berdiri Kabupaten Boalemo meliputi 5 wilayah kecamatan, yaitu; Kecamatan Paguat, Kecamatan Marisa, Kecamatan Popayato, Kecamatan Paguyaman, Kecamatan Tilamuta,. Melihat perkembangan dan dinamika masyarakat Boalemo yang terjadi, serta Provinsi Gorontalo telah terbentuk maka pada tahun 2003 Boalemo dimekarkan lagi. Pada tanggal 27 Januari 2003 Kabupaten Pohuwato berdiri, wilayah ini tadinya merupakan bagian dari Kabupaten Boalemo yang meliputi Kecamatan Paguat, Kecamatan Marisa, Kecamatan Lemito, dan Kecamatan Popayato. Pembentukan Kabupaten Pohuwato sekaligus mengakhiri polemik ditengah masyarakat Kabupaten Boalemo, sebab didalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 50 tahun 1999 menyebutkan bahwa Kabupaten Boalemo dalam jangka waktu lima tahun harus memindahkan ibu kotanya dari Tilamuta ke Marisa.

 

Visi dan Misi

Visi

Berdasarkan kondisi masyarakat Kabupaten Boalemo saat ini, tantangan yang dihadapi dalam 14 tahun mendatang dengan memperhatikan potensi dan faktor strategis yang dimiliki daerah ini, maka ditetapkan visi pembangunan Kabupaten Boalemo tahun 2011 – 2025 adalah:

"BOALEMO YANG MAJU, MANDIRI, DAN RELIGIUS"

Visi tersebut pada dasarnya meletakkan kemajuan, dan kemandirian sebagai indikator kesuksesan pembangunan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai relegius dalam berbagai aspek dalam rangka menjamin terciptanya keseimbangan dalam membangun Boalemo yang berkualitas dan berkelanjutan.

Boalemo Maju, suatu cita-cita atau kehendak pemerintah daerah dan masyarakat untuk mewujudkan Kabupaten Boalemo yang memiliki ekonomi yang handal, sumberdaya manusia yang memilki derajat kualitas kehidupan yang baik dan produktif serta didukung dengan sistem hukum dan pemerintahan yang memiliki integritas. Boalemo Mandiri, suatu cita-cita dari pemerintah daerah untuk membangun masyarakat dan pemerintahan yang memiliki kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dengan mengandalkan sumberdaya yang dimiliki, kemampuan dalam mengendalikan dinamika lingkungan strategis, serta kewenangan dalam pengambilan keputusan dan tindakan untuk semata-mata kepentingan masyarakat dan daerah.

Boalemo relegius, suatu cita-cita masyarakat Boalemo untuk selalu mencerminkan nilai-nilai keagamaan dalam perilaku kehidupan serta praktek penyelenggaraan pemerintahan.

Misi

Misi pada dasarnya adalah merupakan kondisi yang harus dipenuhi agar visi yang telah ditetapkan di atas dapat dicapai. Dengan kata lain; misi menunjukkan beberapa upaya utama pembangunan yang perlu dilaksanakan untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan. Dalam mewujudkan visi pembangunan Kabupaten Boalemo ditempuh melalui 3 (tiga) misi pembangunan Kabupaten Boalemo sebagai berikut:

1.Mewujudkan Perekonomian Boalemo yang Handal dan Berdaya Saing, adalah upaya untuk mewujudkan perekonomian melalui pengembangan agribisnis secara terpadu dan kompetitif dengan membangun sistem produksi, distribusi, dan pemasaran termasuk pelayanan jasa. Pengembangan agribisnis tersebut bertumpu pada kompetensi inti daerah yakni pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kelautan, kehutanan dan pertambangan dan energi, industri pengolahan, dan pariwisata secara berkesinambungan, berwawasan lingkungan dan berdaya saing. Selain itu, pembangunan ekonomi Boalemo juga diarahkan untuk meningkatkan peran kelembagaan ekonomi masyarakat (koperasi dan usaha kecil menengah), optimalisasi perlindungan sumberdaya produktif daerah, peningkatan kualitas SDM di sektor inti daerah, penyederhanaan sistem, prosedur dan birokrasi di bidang ekonomi, peningkatan konektivitas ekonomi Boalemo dengan daerah kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo dan di daerah teluk tomini.

2.Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas serta Religius, adalah pembangunan sumber daya manusia yang memiliki kualitas jasmani dan rohani serta memiliki kecerdasan sehingga mampu berproduktifitas dengan baik. Hal ini akan dicapai melalui; peningkatan, perluasan dan pemerataan akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat, peningkatan penguasaan dan pemanfaatan iptek melalui penelitian, pengembangan, dan penerapan menuju inovasi secara berkelanjutan, peningkatan kesadaran emosional dan spritual, peningkatan kualitas peran masyarakat di bidang keagamaan, seni, sosial budaya, adat, olahraga, politik, dan keamanan, serta pembangunan infrastruktur dan suprastruktur pendukung yang relevan dan berkualitas

3.Mewujudkan Pemerintahan Daerah Boalemo yang Amanah, adalah peningkatan kualitas penyelenggaranaan pemerintahan daerah Kabupaten Boalemo melalui; peningkatan kualitas pelayanan publik, peningkatan kualitas perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi program pembangunan daerah, pengembangan kapasitas manajemen pemerintah daerah melalui reformasi birokrasi, peningkatan kualitas SDM aparatur, right-sizing OTK dan pengelolaan keuangan daerah, peningkatan kualitas peran DPRD, peningkatan relevansi dan kualitas sarana dan prasarana penyelenggaraan pemerintahan daerah, peningkatan peran masyarakat dalam pengambilan keputusan kebijakan publik, serta peningkatan penyeberluasan informasi dan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada publik.

 

Lambang Daerah

lambang kabupaten boalemo

Lambang Daerah Kabupaten Boalemo dimuat dalam bentuk segi Lima, yang melambangkan 5 (lima) Sila Pancasila. Lambang Daerah Kabupaten Boalemo memuat kondisi Geografis dan potensi alam Boalemo antara lain gunung, laut, kelapa, sawah dan indentitas Hewan Langka di Kabupaten Boalemo yaitu Burung Maleo. Lambang Daerah Kabupaten Boalemo memuat senjata khas masyarakat Boalemo yaitu keris (Bituo). Warna Dasar/Arsir Hijau yang merupakan warna adat (linula) Boalemo melambangkan kesejahteraan Masyarakat Boalemo. Atribut lambang Kabupaten Boalemo memuat symbol padi dan kapas yang melambangkan kesejahteraan Masyarakat Boalemo. Landasan bingkai lambang kabupaten Boalemo bertuliskan Kabupaten Boalemo. Ukuran lambang Kabupaten Boalemo disesuaikan dengan kabutuhan dimana lambang itu akan ditempatkan.

Pemaknaan Simbol/Warna dalam Logo :
  1. Gunung : Melambangkan sumber potensi alam ilayah Kabupaten Boalemo
  2. Sawah/Ladang : Melambangkan potensi pangan di kabupaten Boalemo
  3. Kelapa : Melambangkan salah satu komoditas yang dihasilkan oleh masyarakat Boalemo
  4. Laut : Melambangkan Potensi Kelautan dan Perikanan serta Pariwisata
  5. Burung Maleo : Melambangkan hewan langka terdapat di kabupaten Boalemo
  6. Keris (Bituo) : Melambangkan kesiapan dan rasa percaya diri Masyarakat Boalemo.
  7. Padi dan Kapas : Melambangkan kesejahteraan Masyarakat sebagai cota-cita kemakmuran masyarakat Boalemo
  8. Landasan/Bingkai : Landasan/Bingkai yang bertuliskan Kabupaten Boalemo yang ditandai dengan warna hitam diatas putih melambangkan keabsahan Pemerintah (pemerintah Boalemlo)
Warna :

1. Hijau melambangkan warna adat ( Linula ) Boalemo yang tidak bisa di ubah-ubah lagi karena warna ini adalah merupakan ciri khas warna jeruk dan menjadi nama keharuman Masyarakat Boalemo.

2. Hijau Tua melambangkan Hukum dan Kekayaan alam

3. Kuning melambangkan kemakmuran Rakyat Indonesia (sebagai cita-cita Masyarakat Boalemo)

4. Biru muda melambangkan langit

5. Biru Tua melambangkan laut

6. Hitam diatas putih melambangkan keabsahan Pemerintah (Pemerintah Boalemo)